Utara

Kantor Berita Sumatera bagian Utara

  • Portal

      Jawa

      Sumatera

      Kalimantan

      Sulawesi

      Bali dan Nusa Tenggara

      Indonesia bagian Timur

  • Kabupaten Asahan
      rss
  • Kabupaten Batubara
      rss
  • Kabupaten Deli Serdang
      rss
  • Kabupaten Labuhanbatu
      rss
  • Kabupaten Mandailing Natal
      rss
. . . .

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Monetize | Moderate Comments | Sign Out

Berita Utama

Seni dan Budaya

Sejarah

Awal Mula Berdirinya USU

Warga Bicara

Kota Hujan

Kamis, 05 Agustus 2010

Jelang Ramadhan, stok sembako aman

Pemerintah menyatakan stok barang kebutuhan pokok (sembako) menjelang hari besar keagamaan nasional (HKBN) Ramadan dan Idul Fitri tahun ini aman. Bahkan untuk beberapa komoditas strategis dinyatakan surplus.

"Untuk beras mengalami surplus sebanyak 5,5 juta ton," kata menteri pertanian (Mentan), Suswono di Jakarta, tadi malam

Dia menjelaskan, ketersediaan beras dari produksi dalam negeri tahun ini diperkirakan mencapai 38,1 juta ton. Sementara itu total kebutuhan beras diperkirakan sebesar 32,6 juta ton. "Dengan stok awal tahun, beras di gudang Bulog sebesar 1,62 juta ton, maka diperkirakan akan terdapat surplus sebanyak 5,5 juta ton," kata Suswono.

Untuk stok beras pada Ramadan dan Idul Fitri 2010, Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan akan terdapat surplus sekitar 9,8 juta ton hingga 10 juta ton. Apalagi, kata Suswono, kondisi kemarau basah (masih banyak hujan) saat ini masih akan terdapat peluang kenaikan produksi.

Mentan mengakui harga beras dalam beberapa pekan terakhir mengalami kenaikan. Hal ini, kata dia, lebih disebabkan anomali iklim yang menyebabkan pergeseran pola tanam serta gangguan produksi.

Namun dalam beberapa hari terakhir harga beras cenderung turun dan stabil antara lain karena adanya upaya operasi pasar (OP) dan telah dimulainya panen gadu di beberapa sentra beras.

"Saat ini pasokan beras dari Jawa Tengah telah mulai masuk ke pasar. Untuk mengantisipasi perkiraan kebutuhan yang lebih meningkat dalam periode mendatang, maka delivery antar daerah harus lancar," katanya.

Sementara itu kepala badan ketahanan pangan (BKP) Kementan, Achmad Suryana mengatakan, ketersediaan gula tahun ini mencapai 6,24 juta ton. Stok ini berasal dari stok awal tahun, produksi gula kristal putih, gula rafinasi dan gula impor.

Sementara itu kebutuhan gula tahun ini mencapai 4,94 juta ton. Dengan demikian pada tahun ini akan terdapat surplus gula di dalam negeri sebesar 1,08 juta ton. ”Pada bulan puasa dan lebaran ini akan tersedia surplus gula antara 1,1-1,2 juta ton,” kata Achmad Suryana. Untuk kebutuhan daging sapi, Kementan juga menyatakan dalam kondisi aman.

Achmad Suryana mengungkapkan produksi daging sapi dalam negeri tahun ini diperkirakan 329.400 ton yang berasal dari pemotongan sebesar 2,36 juta ekor, sapi lokal 2,1 juta ekor dan 260.000 ekor sapi bakalan eks impor. Sementara itu kebutuhan daging dalam negeri sebesar 403,160 ton. Kekurangan produksi daging sapi akan dipenuhi dari impor sebesar 73.760 ton.

Kebutuhan minyak goreng pada Ramadan dan Lebaran diperkirakan akan terjadi surplus 267.000 hingga 500.000 ton. Dengan surplus tersebut Kementan meyakini harga minyak goreng tidak akan bergejolak.

Achmad Suryana mengungkapkan produksi minyak goreng tahun ini diperkirakan mencapai 16,7 juta ton dan ekspor mencapai 11,7 juta ton. Dengan stok awal tahun sebesar 975.000 ton dan kebutuhan diperkirakan sebesar 5,31 juta ton, maka pada akhir tahun ini diperkirakan akan terjadi surplus 430.000 ton.

Merencanakan Pengelolaan Kampung Dengan Pemetaan Partisipatif

“Letih juga ya, mengelilingi kampung untuk melakukan pemetaan partisipatif
Tapi menarik juga, banyak ternyata informasi yang dapat di gali dari kegiatan ini”
Kata Iwa, sambil istirahat di sela praktek pelatihan pemetaan partisipatif yang dilakukan di Hamparan Perak, Deli Serdang.

Radio Komunitas Mitra Fm di Tandem Hilir, Hamparan Perak Mengadakan pelatihan Pemetaan Partisipatif bagi Anggota Kelompok Pendengarnya di Desa Tanjung Anom Tamdem Hilir Hamparan Perak pekan lalu. Pelatihan ini diikuti oleh 12 orang dari perwakilan setiap kelompok Pendengar (foker) yang di fasilitasi oleh Tim dari Yayasan Leuser Lestari (YLL).

Pemetaan partisipatif merupakan salah satu cara bagi masyarakat desa/kampung untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan wilayah desa/kampung yang berlandaskan atas pengetahuan local masyarakat setempat. Dengan pemetaan partisipatif banyak hal dan informasi yang dapat digali seperti potensi desa/kampung, sejarah desa, batas-batas wilayah, budaya, flora dan fauna, dan banyak lagi sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Selain bermanfaat bagi pendokumentasian pengetahuan local dan potensi wilayah desa/kampung banyak kegunaan dari pemetaan kampung yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat. Diantaranya kegiatan pemetaan bisa dijadikan alat untuk meningkatkan posisi masyarakat dalam melakukan negosiasi bagi pihak luar yang ingin masuk atau memanfaatkan sumber daya yang ada di desa/kampung. Selain itu hasil dari kegiatan pemetaan dapat dijadikan sebagai alat advokasi oleh masyarakat dalam mempertahankan keutuhan wilayah desa/kampung atau wilayah adat. Pemetaan partisipastif juga sangat membantu dalam penyelesaian konflik kawasan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang di ungkapkan Didi (YLL/Koordinator Telapak Sumatera Bagian Utara)qa yang menfasilitasi pelatihan ini :
“sangat banyak kegunaan dari kegiatan pemetaan partisipatif ini, sebagai alat untuk advokasi bagi masyarakat desa atau adat dalam mempertahankan wilayahnya, sebagai alat negosiasi, penyelesaian konflik, dan paling sederhana sebagai alat bantu bagi masyarakat untuk melakukan perencanaan pengelolaan sumber daya alamnya. Kegunaan dan manfaat pemetaan secara partsipatif ini sangat tergantung pada kebutuhan dari masyarakat setempat, bisa jadi manfaatnya banyak jika masyarakat sendiri menyepakati tujuan pemetaan yang dilakukan”.

Iwa,salah seorang dari peserta pelatihan mengaku sangat senang dengan kegiatan ini, dan sudah merencanakan akan mentranformasikan pengetahuan yang didapatnya kepada masyarakat desanya dan akan mengajak untuk melakukan kegiatan pemetaan. “ternyata tidak sulit melakukan pemetaan secara partispatif ini. Awal nya terasa memang agak sulit, namun setelah kami kemaren mempraktekannya ternya tidak rumit. Saya sudah merencanakan untuk desa saya, sehabis pelatihan ini dalam waktu yang dekat kami berharap sudah bisa melakukan pemetaan”.

Begitu juga yang diungkapkan Nurjanah, walaupun masih duduk di kelas 3 SMA, tapi dia sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan pemetaan partisipatif ini walaupun mesti berpanas-panasan di lapangan. Menurutnya dengan kegiatan pemetaan patisipatif ini sangat membantunya untuk mengetahui lebih banyak lagi potensi desanya sendiri. “kegiatan ini menarik sekali, dan ternyata banyak hal yang tidak saya ketahui tentang desa saya. Walaupun hampir setiap hari bermain di desa sendiri banyak hal yang luput saya perhatikan. Dengan kegiatan pemetaan partisipatif ini,ternyata hal sederhana dan menarik banyak yang terdapat di sekitar kami, dan kami baru menyadari itu”.
Keterlibatan masyarakat dalam penataan ruang wilayah desa/kampung sangat lah penting dalam perencanaan dan peruntukan pola ruang karena masyarakat sangat tergantung dengan sumber daya alam yang terkandug diwilayah mereka untk kesejahteraan mereka. Selain itu keterlibatan ini diatur dalam UU. No 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang.

Alasan mengapa masyarakat perlu melakukan pemetaan wilayah mereka sendiri karena selama ini peta menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Tetapi pembangunan yang dilaksanakan selama ini oleh pemerintah lebih berpihak kepada pengusaha dan kurang memperhatikan hak-hak masyarakat setempat, sehingga sering terjadi tumpang tindih kawasan, penyerobotan lahan, ketidakjelasan tata batas, dan sebagainya. Selain itu juga, selama ini pemerintah kurang melibatkan masyarakat dalam menentukan rancangan tata ruang dan pemamfatan suatu wilayah.

Pemetaan partisipatif berbeda dengan pemetaan yang dilakukan pemerintah walau bisa saja kedua institusi tersebut sama-sama memakai teknik pemetaan yang standar. Perbedaan mendasar lainnya adalah pada pemetaan partisipatif, masyarakatlah yang menentukan tema peta apa yang akan mereka gambar dan anggap penting. Dalam sesi pelatihan tersebut, Didi selaku fasilitator mengemukan beberapa karakteristik dari pemetaan partisipatif dintaranya melibatkan seluruh anggota masyarakat, masyarakat menentukan sendiri topik pemetaan dan tujuannya, masyarakat menentukan sendiri proses yang berlangsung, proses pemetaan dan produk-produk yang dihasilkan bertujuan untuk kepentingan masyarakat, dan masyarakat menentukan penggunaan peta yang dihasilkan.

Pasca pelatihan pemetaan partisipatif ini, peserta yang meruapakan perwakilan dari foker-foker dengan semangat mengemukan rencana-rencana pemetaan sebagai tindak lanjut dari pengetahuan yang didapat selama dalam pelatihan ini. Radio Komunitas Mitra FM mengharapkan, setelah pelatihan ini minimal masing-masing foker dalam memetakan sendikitnya 3 peta di daerahnya masing-masing.

Awal Mula Berdirinya USU

Semua masyarakat Indonesia, khususnya Sumatera Utara pasti kenal dengan kata USU. Semua orang mungkin juga mengetahui bahwa universitas yang ada di Jalan Dr Mansur Medan itu banyak menciptakan lulusan akademi yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

Namun, mungkin juga belum banyak yang mengetahui sejarah berdirinya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terpopuler di Sumatera Utara itu. Dan bila pun telah banyak yang mengetahui akan sejarah USU, tak ada salahnya bila dalam rubric kampus ini, sengaja di kedepankan kembali tentang awal mula berdiri USU.

Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. pendirian yayasan ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung oleh Gubernur Sumatera Utara, dengan susunan sebagai berikut: Abdul Hakim (Ketua), Dr. T. Mansoer (Wakil Ketua), Dr. Soemarsono (Sekretaris/Bendahara), Ir. R. S. Danunagoro, Drh. Sahar, Drg. Oh Tjie Lien, Anwar Abubakar, Madong Lubis, Dr. Maas, J. Pohan, Drg. Barlan, dan Soetan Pane Paruhum (Anggota).

Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah mulai sejak sebelum perang Dunia-II, tetapi tidak disetujui oleh pemerintah Belanda waktu itu. Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djmail di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas didaerah ini.

Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang di ketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro, dan sekretaris Mr. Djaidin Purba.

Selain Dewan Pimpinan Yayasan, Organisasi USU pada awalnya terdiri dari: Dewan Kurator, Presiden Universitas, Majelis Presiden dan Asesor, Senat Universitas, dan Dewan Fakultet.

Sebagai hasil kerja sama dan bantuan moril dan material seluruh masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa Acah, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang Mahasiswa diantaranya dua orang wanita. Tanggal 20 Agustus 1952 telah ditetapkan sebagai hari jadi atau Dies Natalis USU yang diperingati setiap tahun.

Kemudian disusul dengan berdirinya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1954), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956), dan Fakultas Pertanian (1956). Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi Universitas Negeri yang ketujuh di Indonesia.

Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I. kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Perternakan (1960) di Banda Aceh.

Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ((1982), Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), Fakultas Farmasi (2007), Fakultas Psikologi (2008), dan Fakultas Keperawatan ( 2009).

Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Perubahan status USU dari PTN menjadi BHMN merupakan yang kelima di Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB, dan IPB. Pada tahun 2000. setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR ((2006).

Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian disusul oleh berdirinya Institut Kegururan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setalah itu berdiri Politeknik Negeri Medan (1999), yang semula adalah Politeknik USU.

Pimpinan Universitas
1957-1958 Z. A. Soetan Koemala Pontas, Ketua Presidium
1958-1962 Prof. Dr. Ahmad Sofian, Presidium
1962-1964` Prof. Mr. Mahadi, Ketua Presidium
1964-1965 Ulung Sitepu, Presidium
1965-1966 Drg. Nazir Alwi, Rektor
1966 (Mei-Nov) Prof. Dr. S. Hadibroto, M.A., Pejabat Rektor
1966-1970 Dr. S. Harnopidjati, Rektor
1970-1978 Haarry Suwando, SH, Rektor
1978 (Mei-Juli) O. K. Harmaini, SE, Ketua Rektorium
1978-1986 Dr. A. P. Parlindungan , SH, Rektor
1986-1994 Prof. M. Jusuf Hanafiah, Rektor
1994-2010 Prof. Chairuddin P. Lubis, D.T.M.&H., Sp.A.(K), Rektor
2010-2015 Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A.(K)

Komunitas

Hobi

Lingkungan rss

Ekonomi

Rambu rss

Kuliner

Rambu

Kuliner

top  

  • Kabupaten Nias Selatan
      rss
  • Kabupaten Padang Lawas
      rss
  • Kabupaten Serdang Bedagai
      rss
  • Kabupaten Tapanuli Tengah
      rss
  • Kabupaten Toba Samosir
      rss

  © Kantor Berita Asteki - Bogor KoTa HuJaN 2008

didukung oleh tPort Integration | Back to TOP  

TopBottom